Sabtu, 21 April 2012

Globalisasi dan Budaya


Nama : Arum Kusuma Wardani
NPM : 51411207
Kelas : 1 IA 12

Dalam definisi globalisasi menurut beberapa ahli, salah satunya adalah Jan Aart Scholte mengatakan globalisasi adalah: ”serangkaian proses dimana relasi sosial menjadi relatif terlepas dari wilayah geografis”. Sementara bila mana melihat definisi budaya diatas, maka bisa diartikan bahwa globalisasi budaya adalah : ”serangkaian proses dimana relasi akal dan budi manusia relatif terlepas dari wilayah geografis”. Sementara itu dalam pandangan hiperglobalis mereka berpendapat tentang definisi globalisasi budaya adalah: “homogenization of the wold under the uauspices of American popular culture or Western consumerism in general “. Ini berarti bahwa globalisasi budaya adalah proses homogenisasi dunia dibawah bantuan budaya popular Amerika atau paham komsumsi budaya barat pada umumnya.
Budaya di dunia ini bila dilihat secara garis besar sebenarnya memiliki dua kubu, kubu yang pertama adalah kubu Timur, negara – negara yang menganut budaya timur adalah negara – negara dari benua Asia seperti Malaysia, India, Vietnam, Arab, Singapore, Afganistan dan masih banyak lagi. Indonesia juga termasuk ke dalam negara yang menganut budaya Timur. Budaya timur pada umumnya adalah malu untuk melanggar hal – hal yang dianggap tabu, karna berfikir akan melanggar estetika. Budaya Timur terkenal dengan keterbukaanya, keagamaannya , kearifan serta tingkat kepedulian atau social yang tinggi terhadap sesama. Sedangka budaya yang lainnya adalah Budaya barat, atau westernest budaya ini di anut oleh bangsa Amerika, Yunani, Brazil, Rusia, China, Polandia, Italia, Spanyol, Meksiko dan masih banyak lagi negara lainnya. Mereka mempunyai sikap sikap yang sangat dekat dengan pergaulan yang bersifat negative, sangat berkebalikan dengan Budaya bangsa timur. Mereka melupakan nilai estetika, nilai – nilai ketuhanan , serta berfikir sangat individualism. Cara berpakaiannya pun sangat berlawanan dengan Budaya timur yang tertutup.
Penyebaran Budaya – budaya barat ini sangat cepat menjalar ke Negara – negara yang menganut Budaya Timur, itu disebabkan oleh adanya globalisasi, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, dan banyak penemuan – penemuan dalam bidang telekomunikasi yang dapat mempercepat penyampaian informasi dari segala penjuru. Dalam era ini semua batasan – batasan yang ada antara negara – negara menjadi hilang, dunia akan dapat mengetahui dengan cepat masalah – masalah yang timbul dari suatu negara. Budaya – budaya yang sekiranya cocok atau pas dengan pemiliknya akan diterima dengan mudah dan budaya yang sekiranya tidak cocok akan ditolak. Cocok atau tidaknya suatu budaya dengan pemiliknya adalah beragam, setiap pemilik kebudayaan memiliki penilaiannya masing – masing . Perbedaan pendapat itu membuat aka nada kubu dengan budaya yang menyimpang dan kubu lain dengan budaya yang tidak menyimpang dengan etika dan norma – norma yang ada di dunia ini.

Namun ada pula unsur-unsur kebudayaan asing yang sulit diterima adalah misalnya :
a. Unsur-unsur yang menyangkut sistem kepercayaan seperti ideologi, falsafah hidup dan lain-lain.
b. Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Contoh yang paling mudah adalah soal makanan pokok suatu masyarakat.
c. Pada umumnya generasi muda dianggap sebagai individu-individu yang cepat menerima unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, dianggap sebagai orang-orang kolot yang sukar menerima unsur baru.
d. Suatu masyarakat yang terkena proses akulturasi, selalu ada kelompok-kelompok individu yang sukar sekali atau bahkan tak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan- perubahan yang terjadi.
Kesimpulan dari artikel ini adalah bahwa dengan adanya globalisasi yang mempengaruhi pertukaran informasi dan saling mencampuri satu budaya dengan budaya yang lain. Semakin luasnya budaya Timur yang menyimpang ke berbagai belahan dunia. Terpengaruhnya suatu budaya dengan budaya lain, kembali lagi kepada si pemilik dari budaya tersebut. Mereka ingin menggantikan, memodifikasi, atau menghapus budaya tersebut dengan budaya yang baru atau tidak.


Referensi :

0 komentar:

Poskan Komentar